Senin, 30 September 2013

Bunga Mawar Ujung Gang 4

     Diantara anak-anak gangku tersiar berita bahwa aku dekat ama Rosi. Gak tahu siapa yg menyebarkan berita ini. Hanya saja akibat berita itu, sekarang sikap Lusi amat berbeda padaku. Ia biasanya periang, dan selalu tersenyum bila bertemu denganku. Namun sejak berita kedekatanku dengan Rosi tersebar diantara ana-anak, sikap Lusi jadi berubah. Saat bertemu di mushollapun ia diam saja. Tak ada senyum. Ia seolah-olah menampakkan sikap tidak suka dengan gosip itu. Jangankan tersenyum atau bicara. menoleh padaku pun tidak. Lusi tampak cemburu.

     Di tempat wudhu, aku mencoba mengajak Lusi bicara.

     "Lusi......." sapaku.

     "Heh?" 

     "Kenapa sih kamu? Kok sikapmu berubah begitu...."

     "Hah? Gak salah tuh...."

     "Maksudnya..?" tanyaku heran.

     "Seharusnya aku yang bertanya itu padamu...." jawab Lusi tanpa ekspresi, tanpa senyum manisnya yang selalu membuat hatiku senang.

     "Maksudmu aku berubah?"

     "Tanya pada hatimu...."

     "Aku rasa aku gak berubah kok..."

     "Menurutmu.... tapi tidak menurut orang lain...."

     "Maksudmu apa sih Lus? Aku gak ngerti...."

     "Tanyalah pada hatimu sendiri.... kalau belum mengerti juga, tanyalah pada teman-temanmu..."

     "Lusi, kamu cemburu pada Rosi, ya?"

     "Gaak.... ngapain aku cemburu..."

     "Kamu cemburu karena aku dekat ama Rosi ya..."

     "Ngapain aku mesti cemburu ama Rosi?" Lusi mendongakkan kepalanya. Nafasnya seperti tertahan. dan jantungnya seperti berdetak amat cepat. Tak ada keceriaan yang biasa aku lihat di wajahnya. ia seperti menahan marah.

     "Lusi, jangan cemburu dong... Aku ama Rosi cuman berteman saja kok... gah lebih."

     "Kalo cuman berteman, ngapain hari minggu naik sepeda berboncengan jalan2 ke sawah.... Ngapain juga berduaan di rumah Pak Herman..." Kulihat nafas Lusi tersengal-sengal. Ia tampak sedang mengendalikan emosinya. 

     "Oh, di rumah Pak Herman itu? Aku cuman membantu Rosi mengerjakan PR nya..." kilahku.

     "Tapi kenapa setiap aku ada PR kamu gak pernah membantuku...."

     "Kamu gak minta aku membantu mengerjakan PRmu. Dan aku rasa kamu pun mampu mengerjakan PR itu sendiri."
     
     "Alasan saja. Supaya kamu bisa dekat ama Rosi, kan?"

     "Lusi, kok kamu gitu sih? Aku kan...."

     "Dah, gak usah banyak alasan! Minggir.... aku mau wudhu. Sebentar lagi adzan. Lagian ini adalah tempat wudhu wanita. Tempat wudhu laki-laki disebelah sana.." Lusi memotong pembicaraanku. Ku lihat sudah banyak jamaah wanita berdatangan hendak wudhu. maka aku cepat2 menyingkir dari situ.

     "Lusi, besok aku mau bicara ama kamu," ucapku sebelum ngeloyor pergi.

     "Terserah. Aku gak peduli."

     "Minggu siang, selepas zhuhur di belakang musholla. Aku tunggu...."

     "Bodo amat....." ucap Lusi sambil cemberut. 

     Tak lama kemudian Rosi muncul. Seperti biasanya, pembawaannya amat tenang. Ia seperti tak terpengaruh berita-berita gosip tentang dirinya. Saat berpapasan dengan Lusipun dia seperti biasa2 saja. Seperti gak ada apa2. Berbeda dengan sikap Lusi yang tampak sinis pada Rosi. 

     Selesai wudhu Lusi langsung masuk musholla. Ku lirik Rosi. Ia tampak acuh saja, seolah kami gak pernah dekat sebelumnya. 

     "Hey.... Ros...."
     
     "Ssstt...." Rosi menempelkan jari telunjuk di mulutnya, memberi isyarat agar aku jangan bicara. Aku paham maksudnya. Mungkin sudah santer issu kedekatanku ama dia. Dia gak mau issu itu tambah santer lagi. maka dia melarang aku mendekati dan bicara padanya. Hadeuuhh.... 

       ************************************************************

     Minggu siang, saat sholat zhuhur di musholla. Ku lihat Lusi datang tuk sholat berjamaah. Tumben, biasanya dia gak pernah sholat zhuhur berjamaah di musholla. Mungkin dia mau memenuhi ucapanku kemarin.

     Selesai sholat zhuhur, aku menyapu halaman musholla. Lusi menghampiriku.

     "Katanya mau bicara. Ku tunggu di belakang musholla, sekarang, " kata Lusi.

     "Sebentar, ya? Aku nyelesai'in nyapu dulu," jawabku.

     Selesai menyapu, kulihat Lusi duduk sendiri diatas potongan kayu di belakang musholla, menghadap ke sawah. Kulihat siang itu langit amat cerah, gak ada awan. Dan rimbunnya pepohonan serta hembusan angin sawah cukup membuat nyaman di siang hari yang amat terik ini.

     Aku duduk disamping Lusi. Hamparan sawah tampak hijau. Dan dedaunan pohon padi tampak bergoyang-goyang dihembus angin. Kami saling diam, tak ada sepatah kata yang kami ucapkan.

     "Katanya mau bicara, sok ngomong. Kenapa diam saja?" tanya Lusi memecah kesunyian. 

     "Kenapa sih Lus sikap kamu kok berubah padaku," tanyaku pula.

      "Siapa yang berubah? Justru kamu yang berubah. Kamu sekarang malah menjauhi aku, dan semakin dekat saja ama Rosi."

     "Aku ama Rosi cuman berteman saja kok, gak lebih."

     "Itu menurut kamu. Tapi hati orang siapa yang tahu."

     "Kamu cemburu ama Rosi, ya?"

     "Gak. Ngapain aku cemburu......"

     "Kalau kamu gak cemburu, kok intonasi nadanya beda... Gak seperti biasanya...."

     Lusi diam. Sorot matanya jauh menatap di pematang sawah yang luas. 

     "Kamu naksir Rosi, ya...?" nada suara Lusi terdengar amat berat, dan sedikit bergetar. Sepertinya dia sedang menahan perasaannya yang sedang bergejolak.

     Aku terdiam. Dalam hati aku mengakui, kalau aku naksir ama Rosi. Namun aku juga naksir ama Lusi. Dan diantara mereka amat berat bagiku untuk memilih. Lusi orangnya baik padaku. Kulitnya putih bersih. Ketawanya lepas. Dan ia selalu jujur, tak pernah berkata bohong, dan bicara seadanya. Dan pada Rosi, memang aku belum lama dekat padanya. Aku belum begitu mengenal sifatnya. Namun sikap Rosi yang aneh, acuh dan misterius, sungguh membuat aku penasaran, ingin mengenal dia lebih dekat.

     "Kok diam saja? Benar kan kata orang2, kalo kamu naksir ama Rosi?"  tanya Lusi kembali, membuyarkan fikiranku.

     "Lusi..... kuakui, kamu amat baik bagiku. Diantara semua gadis, kamulah yang paling perhatian padaku. Dan tak kutemui orang yang baik dan perhatian sepertimu. Dan Rosi, aku memang belum lama dekat dengan dia. Akupun belum mengenal sifat2nya."

     "Lalu....?"

     "Menurutmu, Rosi itu gimana sih? Kamu kan waktu SD bareng sama dia."

     "Memang aku ama Rosi waktu SD sekolah bareng. Dia itu sifatnya jelek, angkuh, dan acuh. Makanya teman2 gak ada yang dekat padanya. Coba saja perhatikan. Bila teman2 pada kumpul2 bermain, dia gak pernah ikut nimbrung. Begitu pula dengan orang tuanya. Tahu sendiri kan, ortunya gak pernah main, atau sekedar silaturahmi ke tetangganya. Waktunya lebih banyak di dalam rumah."

     "Ya, aku perhatikan juga begitu."

     "Terus, bagaimana...?"

     "Bagaimana apanya? "tanyaku pura-pura nggak tahu.

     "Tentang kita....., " kata Lusi sambil menunduk. 

     Kuperhatikan wajahnya. Sepertinya dia sedang menantikan sebuah jawaban kepastian dariku.

     "Lusi, kamu amat baik padaku. Maukah engkau jadi pacarku?" 

     Tiba-tiba es yang semula beku jadi mencair. Wajah Lusi yang semula murung terlihat cerah. Kulihat kembali senyumnya yang manis, semanis madu. Cerah secerah siang hari yang tanpa mendung. Lusi berusaha menyembunyikan perasaan gembiranya. Namun hati gak bisa dibohongi. 

     "Lusi, maukah kamu jadi pacarku?" kataku mengulang.

     Lusi menganggukan kepalanya, sambil tersenyum manis. Duh, bahagianya hati ini, melihat senyum Lusi kembali. Ingin aku memegang tangannya, atau mengecup keningnya. Namun aku gak berani. Takut.....

Bersambung...........


    

Sabtu, 13 Juli 2013

Bunga Mawar Ujung Gang 3

     Sore, selepas maghrib. Aku duduk-duduk dibelakang musholla, di halaman rumah Pak Herman. Aku berharap bisa bertemu Rosi. Aku kangen ama matanya yang besar, lirikannya yang tajam, dan rambutnya yang panjang tergerai. Sudah beberapa hari ini aku tidak melihatnya di musholla. Kemanakah dia? Atau dia sedang sakit? Duh... kangennya diriku...

     Menjelang isya, Tiri, tetangga Rosi lewat. Dia hendak ke musholla. Melihat aku duduk sendiri dia menyapa.

     "Duuuhh.... lagi nunggu seseorang ya?" sapanya. 


     "Siapa?" 

     "Siapa lagi kalau bukan 2051." 

     "Apa tuh?" Aku tahu, maksud Tiri adalah Rosi. Tapi aku pura-pura gak ngerti.

     "Gak tahu atau pura-pura gak tahu?"

     "Au ah... gelap..." aku pura-pura gak tahu.

     "2051 alias Rosi..."

     "Ehh... kemana ya dia, gak liat-liat?" Ah, ada kesempatan nih buat nanyain Rosi. Mungkin Tiri tahu keadaan Rosi. Dia kan tetangga sebelah rumahnya.

     "Dia sakit, udah 5 hari. Kamu gak nengokin?"

     "Sakit? Ooohh... pantas.... Kasihan ya?! Sakit apa?"

     "Gak tahu. Sekarang sih kayaknya sudah mendingan. Kemarin dia minta tolong sama saya, membantu ngerjain PR matematikanya."

     "Terus?"

     "Aku suruh saja minta bantuan Alim. Soalnya Alim kan jago dalam mata pelajaran matematika."

     "Ah.... Tiri.. kamu bisa saja. Jangan terlalu memuji...."

     "Tapi Rosi pengen nanya kamu malu. Orang tua Rosi juga melarang Rosi keluar malam kalau gak ada perlunya."

     "Terus?"

     "Kalau kamu mau dan ada waktu, bantuin ngerjain PRnya. Disini saja, di rumahnya Pak Herman. Istri Pak Herman kan masih familinya Rosi. Jadi orang tua Rosi gak khawatir."

     "Oke deh... kapan?" Ah, kesempatan itu akhirnya datang juga. Bisa deket sama Rosi lagi nih....
     "Besok saja, selepas sholat isya...."

     Cihuy..... yes... yes.. yes.... seneng juga hatiku.


    *****************************************************************


     Seperti ucapan Tiri kemarin, betul saja, selepas isya aku lihat ada Rosi di rumah Pak Herman. Dia mengenakan piyama warna pink. Dan sejumlah buku tergeletak di atas meja ruang tamu. 
     "Tok.. tok.. tok... assalamu alaikum," ucapku.
     "Wa alaikum salam. Eh, Alim.... kebeneran. Masuk," sapa Rosi.
     "Lagi belajar ya?" Aku kemudian masuk dan duduk berhadapan.
     "Aku ada PR nih. Bantuin aku dong! Kata Tiri kamu paling pinter mata pelajaran matematika. Terus terang, aku kurang di pelajaran matematika. Ajarin aku ya?"
 
     "Matematikanya tentang apa?"
     "Volume ruang."
     "Ah, itu sih gampang....."

     "Gampang bagi kamu. Bagiku susah banget..."

     Maka malam itu aku ajari Rosi cara mengerjakan PRnya. Ia tampak begitu antusias menyimak setiap penjelasan yg aku kemukakan. Hingga akhirnya PR itu selesai dalam waktu 1 jam.
     " Terima kasih Alim mau mengajarin aku. Nanti kalo aku ada PR lagi jangan kapok ya bila aku minta bantuan."
     "Nggak! Aku malah seneng kok bisa membantu kamu," ucapku. Padahal sih seneng karena bisa deket ama Rosi.
     "Kita duduk di teras depan saja yuk. Di dalam gerah."
     "Iya. Diluar adem, banyak angin," aku menimpali.
     Kemudian kami duduk di buk depan rumah. Angin yg berhembus sepoi-sepoi begitu manja menyibak rambut Rosi. Dan aroma wanginya begitu tersebar, sampai ke jantungku.
     "Alim, tahu enggak.... minggu kemarin aku sakit. Makanya aku gak ngaji ke musholla."
     "Ya. Aku dengar dari Tiri."
     "Pada saat aku sakit, aku seperti mati suri. Aku gak sadarkan diri. Sampai mamahku menangis semalaman."

     "Emang kamu sakit apa?"

     "Gak tahu. Hanya saja, saat aku tak sadarkan diri, aku merasa kamu datang ke kamarku."

     "Mungkin kamu mimpi."

     "Mungkin juga. Dalam mimpiku itu kamu berdiri di samping tempat tidurku, sambil bersedih. Kemudian kamu memberiku setangkai bunga mawar. Apa artinya ya?"

     "Gak tahu."

     Rosi menatap mataku. Bola matanya yang besar seperti mengharap jawaban dariku. Kulihat alisnya yang indah seperti bulan sabit.
     "Alim.... setiap kamu adzan, rasanya kamu seperti memanggil-manggil diriku....."
     "Hah? Masa'?"
     "Betul."
     "Mungkin kamu lagi jatuh cinta...."

     "Mungkinkah?"

     "Ya...."
     Rosi menatap wajahku kembali. Ia seperti berharap sesuatu. Kemudian ia membuang pandangannya jauh ke hamparan sawah di depan. Bintang-bintang tampak berkedipan. Namun malam itu tak nampak rembulan.
     Tiba-tiba Rosi menjatuhkan pandangannya ke sudut belakang musholla. Ia seperti ketakutan, kemudian ia mendekatkan duduknya disampingku.
     "Kenapa? Kamu seperti melihat hantu." tanyaku.
     "Apa kamu tidak melihat?"

     "Melihat apa?" tanyaku heran.

     "Aku melihat ada wanita tua disudut sana."
     "Wanita? Mana? Gak ada siapa-siapa..." Aku perhatikan arah pandangan Rosi. Yang tampak olehku hanya kegelapan malam.
     "Di sudut belakang musholla itu. Ada wanita tua yang menatapku. Rambutnya putih panjang sampai ke pantat. Ia mengenakan selendang kuning...." Rosi tampak ketakutan. Ia kemudian menutup matanya dan menjatuhkan kepalanya dipundakku.
     "Kuntilanak? Mana? Gak ada apa-apa." Aku heran. Gak ada apa-apa disana. Hanya sekumpulan pohon pisang. Tapi sikap Rosi ini memberikan kesempatan juga buat aku dekat dengannya.
     "Gak! Aku gak mau menatapnya. Ia mengawasiku terus! Matanya menatapku terus.."

     "Rosi, kamu jangan menakut-nakutiku. Aku juga merinding nih...."

     "Alim, anterin aku pulang, ya? Aku takut...."
     "Boleh..."

     "Tapi jangan sampai ke rumah ya. Cukup sampai depan pagar. Sebelum aku masuk rumah kamu jangan pulang dulu."

     "Baik."
     
     Maka malam itu aku antar Rosi pulang. Kami berjalan beriringan. Dan aroma wangi rambutnya kembali aku cium.
     "Kamu suka pake parfum ya?"
     "Parfum? Gak... aku gak pernah pake parfum..."

     "Tapi kok rambutmu bau wangi....."


     "Oh ya?"

     Aku mengantar sampai pagar rumahnya. Rosi mengetuk pintu. Tak lama kemudian mamahnya keluar dan membukakan pintu. Rosi menatapku sebentar, melambaikan tangan kemudian masuk. dan akupun pulang.

     Sampai dirumah, di tempat tidur. Sambil tiduran aku berfikir, memikirkan sifat Rosi yang aneh. Betulkah ia melihat kuntulanak atau jin perempuan? Padahal aku sering lewat belakang musholla, tapi tak pernah melihat sesuatu, apalagi jin atau kuntilanak. Apa Rosi mengada-ada? Atau memang dia bisa melihat hantu? 

     Ah.... Rosi betul-betul gadis yang aneh. Sorot matanya tajam, seperti mata kucing yang selalu mengawasi. Lagaknya pun aneh. Ia selalu menghindar bila ada orang yang mendekatinya. Ia tak pernah ikut bergabung dengan teman-teman sebayanya, hanya sekedar untuk bermain petak-umpet atau bermain congklak misalnya. Ah.... betul-betul aneh. Namun sikapnya itu justru membuat aku penasaran, ingin tahu banyak tentang dia.


 Bersambung....


Jumat, 21 Juni 2013

Bunga Mawar Ujung gang 2



Maghrib. Sore ini aku datang lebih awal ke musholla. Dan karena aku datang paling awal, maka akulah yg adzan di musholla. Allaahu akbar..... Allaahu akbar....
Tak lama kemudian Rosipun muncul di musholla. Aku senang sekali bisa menatap wajahnya kembali. Ia menatapku sebentar, kemudian pergi menuju tempat air wudhu. Seperti biasanya, ia tampak tenang dan sedikit acuh. Rosi.... sifatnya agak sedikit aneh menurutku. Padahal tadi pagi ia nampak ceria sekali, saat jalan-jalan pagi ke jalan baru. Tapi sekarang ia nampak sedikit acuh. Sungguh, hal itu membuatku semakin penasaran.
Tak lama kemudian Lusipun muncul dengan teman-temannya, Sofia, Imas dan Juju. Memang selama ini aku dekat ama Lusi. Ia orangnya baik, periang, dan ramah. Kulitnya kuning langsat, dengan badan sedikit gemuk. Kalo tertawa suka lepas, sampai badannya ikut terguncang. Suka bicara apa adanya. Ceplas-ceplos. Bila ada teman-teman sedang berkumpul, ia tak segan-segan mengeluarkan uang untuk membeli makanan dan minuman. Oleh karena itulah ia banyak disukai teman-teman.
“Hay si ganteng...., kangen nggak ama yayangmu ini?” Imas menggodaku, yang sedang duduk disamping musholla.
“Hus..... apaan sih ?” Kulihat Lusi mencubit pinggang Imas.
“Aduuhh.... ampun sayang.... sakit tahu ???” Imaspun meringis.
“Kamu sih.... ngomong sembarangan saja....” sahut Lusi. Merekapun saling tertawa. Aku sih senyum-senyum saja. Mereka memang suka bercanda. Saat berpapasan dengan Rosi mereka diam. Aku tahu Lusi cs gak suka Rosi. Mereka seperti berseteru. Walau berpapasan mereka tak bertegur sapa.
Selepas maghrib, seperti biasa aku duduk-duduk di beranda rumah Pak Herman, belakang musholla. Rumah Pak Herman amat teduh, dengan pohon jambu air di halamannya. Rumahnya pun menghadap ke sawah.
Tak lama Rosi lewat, hendak pulang ke rumahnya. Wahh.... kesempatan nih, buat pedekate.
“Hay.... mau pulang?” sapaku.
“He-eh... mau pulang dulu,” jawabnya.
“Ngapain? Sebentar lagi juga isya,” aku mencoba mencari alasan agar bisa mengobrol lama dengannya.
“Iya sih.....” jawabnya ragu-ragu.
“Duduk saja disini sebentar nemenin aku, sambil nunggu waktu isya,” aku mencoba mencari dalih.
“Nanti ada yang marah nggak nih?” jawab Rosi.
“Siapa yang marah?” selorohku.
“Ya pacarmu lah.....” ucap Rosi sambil tersenyum manja. Maniiiss... sekali.
“Emang aku punya pacar ?”
“Kali saja. Katanya kamu berpacaran ama Lusi....”
“Siapa bilang? Kami cuman berteman saja, kok!” aku membantah.
“Tapi kalian dekat, kan?”
“Ya.... tapi cuman sebatas teman,” aku beralasan.
“Pada mulanya sih teman, tapi lama-kelamaan bisa lebih dari teman.”
“Jangan ngaco ah.....”
“Maaf ya kalo kamu tersinggung. Jangan marah. Aku cuman bercanda kok,” sahut Rosi manja, kemudian duduk disampingku.
“Alim, tahu nggak... tiap aku mendengar suara kamu adzan, hatiku terasa teriris. Suara adzanmu seperti menyayat hatiku. Tajaaam...... banget.”
“Ah, masa’ sih?”
“Bener, lho.... kenapa ya?” Rosi menatap wajahku. Matanya yang besar dan bulat seperti mengharap jawaban dari diriku.
“Gak tahu.”
“Suara adzanmu panjang meliuk-liuk. Tiap kali mendengar kamu adzan, aku mencoba menahan nafas. Huuff... sampe aku gak kuat menahannya....”
“Maksudnya? Aku gak ngerti...”
“Kata nenekku, kalo kamu ingin suaranya kuat saat mengaji, kamu harus belajar mengolah nafas. Caranya, dengan menahan nafas saat mendengar suara adzan. Dan melepaskan udara saat selesai adzan. Sungguh, aku tak kuat menahan nafas saat kau adzan. Nafasmu begitu panjang.”
“Oh ya? Mungkin karena aku tidak merokok dan rajin berolah raga,” aku memberi penjelasan.
“Alim, terima kasih ya mau nemenin aku jalan-jalan kemarin pagi.”
“He-eh,” sahutku. Padahal aku juga senang banget bisa berjalan bareng ama Rosi yang cantik dan manis.
“Besok kamu punya acara nggak?”
“Besok pagi? Gak ada... paling nyuci baju doang.”
“Besok kita jalan-jalan lagi yuk!”
Wow.... aku girang banget Rosi mau ngajak aku jalan-jalan lagi.
“Sehabis subuh seperti kemarin?”
“Jangan habis subuh. Sekitar jam 8 pagi. Soalnya pagi-pagi juga aku mau nyuci pakaian dulu.”
“Boleh.”
“Aku tunggu di depan gang ya!?”
“Boleh!” sahutku. Wow, kesempatan lagi nih bisa dekat ama Rosi. Aku seneng banget. Yes! Yes! yes!!!


Pagi, jam 7:45. Semua pekerjaanku sudah beres. Nyuci baju, sepatu, ngepel sudah aku selesaikan. Cepat-cepat aku berjalan menuju depan gang. Dan tak berapa lama ku lihat Rosipun sedang berjalan, kira-kira 50 meter dibelakangku. Rosi memakai kaos kuning dan celana pendek warna coklat. Ia memberi isyarat agar aku berjalan duluan. Saat aku menyeberang jalan, Rosi kemudian menyusulku sambil berjalan agak cepat. Dan tak lama kamipun berjalan beriringan.
“Hay... sudah beres pekerjaanmu?” sapaku.
“Sudah....” jawab Rosi.
Rosi merogoh saku celananya, kemudian mengeluarkan beberapa butir permen.
“Mau?”
“Boleh,” aku mengambil sebutir permen.
“Aku membawa radio kecil pemberian nenekku,” ucapku.
“Oh ya?”
“Ya,” jawabku sambil mengeluarkan radio kecil di sakuku.
“Cariin aku lagu dong,” pinta Rosi.
Aku mencoba mencari-cari gelombang radio. Dan aku dapat sebuah lagu dari Itang Yunasz.

Klak Klik Kluk (Cinta Pertama) – Itang Yunasz

    Tak tuk, tak tuk terdengar
Langkah berjalan di atas panggung busana
Aduhai gayanya, tampak serasi dengan busananya
Dan sungguh daku jadi suka padanya

      Klak klik, klak klik, klak klik kluk
Kupotret dia, dan kuberikan senyum
Dia pun tersenyum
Membuat hatiku bertambah suka
      Akhirnya aku dapat berkenalan dengan dirinya
Lalu terus ku coba untuk dapat memilikinya

Reff.  Dua bulan lamanya aku dekati dia dengan cinta membara
    Dan dengan sejujurnya kukatakan aku cinta pada dirinya
    Lalu dia berkata, aku juga cinta pada dirimu, cinta pertama...

Kami terus berjalan menyusuri jalan baru. Jalannya sepi. Maklum, dulu jalan ini hanya sebuah jalan setapak di tengah sawah. Kiri-kanan jalan hanya tampak pohon mangga dan pohon widara. Angin berhembus agak keras. Maklum, areal persawahan. Angin yang keras kadang mengacaukan rambut Rosi yang panjang tergerai. Rosi tampak sesekali membereskan rambutnya.
“Alim, kita balap lari yuk... itung-itung olah raga,” ajak Rosi.
“Boleh. Saya hitung sampai 3 ya?” kataku.
“Jangan kamu yang menghitung. Aku saja. Awas ya, 1.... 2...,” belum sampai hitungan ke-3, Rosi sudah lari duluan.
“Iiihh... kamu curang!” teriakku. Cepat-cepat aku lari menyusulnya. Rosi tampak tertawa
“Aliiimmm..... berhenti! Aku capek!” teriak Rosi. Rosi tampak terengah-engah. Maka aku berhenti menunggunya. Dan setelah Rosi agak dekat, eehh..... dia lari lagi mendahului aku.
“Kamu ketipu..... hahahaha...,” Rosipun tertawa-tawa lagi sambil berlari.
“Kamu curaaanngg...... awas ya....,” maka aku pun berlari menyusul Rosi, bahkan mendahuluinya lagi, sehingga Rosi tertinggal beberapa meter dibelakangku. Dan tiba-tiba.....
“Aduh.... Aliimm.... aku jatuh.”
Aku terus berlari. Ah, paling akalnya Rosi lagi nih. Maka aku tidak memperdulikan dan terus berlari.
“Aliiimm.............. tolong akuuu..... serius, aku jatuh beneran.”
Aku berhenti. Aku menoleh ke belakang. Dan kulihat Rosi terjatuh beneran. Kulihat lututnya lecet. Maka segera aku menghampirinya.
“Ini akibat kamu berlaku curang,” ujarku.
“Alim, serius nih. Bantu aku berdiri. Kakiku sakit,” pinta Rosi. Maka aku memegang tangannya dan membantu Rosi berdiri. Tangannya mungil dan halus. Dan kucium lagi aroma wangi khas dari rambutnya. Sebenarnya hatiku agak berdesir juga. Maklum, baru pertama kali ini aku dekat dan menyentuh tangan seorang wanita. Wanitanya cantik lagi. Uhuyy....
“Kamu gak apa-apa?” tanyaku.
“Udah tahu lecet..... dibilang gak apa-apa,” Rosi agak cemberut.
“Laahh... cuman lecet sedikit doang...”
“Tapi kan tetap saja sakit.”
“Tunggu disini sebentar ya..?”
“Mau kemana?”
“Sebentar saja.”
Kulihat dipinggir sawah ada pohon kangkungan. Aku ingat, sewaktu kecil aku sering menggunakan getah pohon kangkungan untuk menghentikan pendarahan atau lecet. Maka aku potong pucuk pohon kangkungan itu. Dan getahnya aku oleskan pada lututnya yang lecet.
“Apakah ini aman?” tanya Rosi.
“Ya pasti aman lah..! Aku sejak kecil udah biasa menggunakan getah pohon kangkungan kalo lecet-lecet.”
Saat mengolesi lutut Rosi, aku mencoba mencuri pandang wajahnya. Matanya besar, bulat dan indah. Bulu alisnya halus, dan hampir menyatu. Bibirnya merah muda. Bentuk bibirnya aneh dan lucu. Bibir bawahnya seolat terbelah dua. Kalau orang jawa bilang, manggis rengat. Dan tak sengaja mata kami beradu. Tahu Rosi juga memandang wajahku aku malu juga. Maka aku fokus lagi pada lututnya.
“Alim... makasih ya?”
“He-eh.” Dan kubantu Rosi berdiri.
“Sebaiknya kita istirahat dulu. Di bawah pohon mangga itu saja. Rimbun dan rindang.”
“He-eh.”
Dan kemudian kami berduapun duduk dibawah pohon mangga yang rimbun. Angin dari sawah berhempus sepoi-sepoi. Seolah membelai rambut Rosi yang panjang tergerai. Pohon padi di depan kami terhampar menghijau bagai permadani. Dan puluhan burung pipit berkejaran diatas permadani alam itu. Kami saling diam, terpesona oleh keindahan alam ini.
“Alim, putar lagi dong radionya.”
“Nih, kamu saja yang cari gelombangnya.” Aku menyerahkan radio sakuku ke Rosi. Dan Rosipun mencari-cari lagu yang ia senangi. Dan ia berhenti saat mendapatkan sebuah lagu dari Memes, Terlanjur Sayang.


MEMES – TERLANJUR SAYANG

Segala cintaku yang kau jala
Membawa dirikupun percaya
Memberikan hatiku
Hanya kepada dirimu slamanya
Sampai kapan jua
Menjaga sgala rasamu
Agar dirimu selalu merasa
Akan cinta kita
Apakah diriku yang bersalah
Hingga pisah di depan mata
Tetapi diriku masih
Tetap cinta kamu kasih slamanya
Sampai kapan jua
Menjaga cinta kita
Agar tetap di tempatnya sehingga
Takkan sampai punah

Seribu ragu yang kian menyerang
Tapi diriku terlanjur sayang
Walau arah mata angin melawan
Tapi ku bertahan dan kuberjalan

Santun berkata kaupun menanyakan
Mengapa cinta dipertahankan
Tetapi haruskah dipertanyakan
Bila kuterlanjur kuterlanjur sayang 




     Tengah hari, saat matahari sudah meninggi kami pulang. Namun Rosi gak mau kami jalan bareng. Malu, katanya. Tepat di depan gang ia berjalan duluan kemudian aku menyusul di belakangnya.

Bersambung.......


Rabu, 22 Mei 2013

Bunga Mawar Ujung Gang 1

Bagian 1 : Kesan Pertama



     Oaahheemmm..... mata ini masih terasa mengantuk ketika aku dibangunkan oleh suara alunan qiro KH Muammar ZA dari membran TOA musholla. Kulihat jam weker di meja kamarku. Pukul 04:10. Masih 25 menit lagi menuju waktu subuh. Walau hari ini adalah liburan sekolah tahun ajaran baru 1990, bukan berarti aku harus bermalas-malasan. Karena urusan ibadah adalah urusan pribadi dengan Allah. Hmm... masih tergambar jelas di otakku sisa mimpi semalam. Ya, aku melihat matahari dan rembulan muncul bersamaan dalam satu waktu. Aneh juga ku pikir. Apakah ada artinya? Karena mimpi itu bagiku tidak biasa. Mudah-mudahan ada pertanda baik, bukan sebaliknya.

  Ku ambil sarung biru kumal dan peciku. Peci kuletakkan diatas kepala dan sarung aku lilitkan di leherku. Ibu tampak sudah bangun duluan. Ia sedang membereskan pakaian kotor untuk direndam kemudian dicuci setelah sholat subuh. Bergegas aku menuju musholla. 

     Sampai di musholla, suasananya tampak masih lengang, belum ada seorangpun jamaah yang datang. Rupanya Pak Ustadz sehabis nyetel kaset pulang lagi ke rumahnya. Makmum, rumah Pak Ustadz hanya berjarak 20 m dari musholla. Segera saja aku ambil sapu yang tergeletak di belakang pintu, kemudian menyapu lantai, di mulai dari tempat imam.

     Tak lama kemudian seorang gadis masuk. Ia berambut panjang lurus sampai ke pantat dengan poni di depannya. Badannya langsing, berkulit sawo matang manis. Matanya besar. Aku kenal gadis itu. Ia tinggal di ujung gang. Rumahnya menghadap ke sawah, dengan 2 pohon jambu air yang rimbu di depan rumahnya. Namanya Rosi. 

“Biar aku saja yang menyapu. Masa’ ada cewek, cowok yang nyapu,” kata Rosi sambil merebut sapu dari tanganku. Rosi membereskan rambutnya yang panjang kemudian disanggulkan. Tercium olehku aroma wangi dari rambutnya, yang menggetarkan hatiku. Kemudian ia mulai menyapu. Aku terdiam seperti patung. Aku seperti tersihir oleh aromanya. 

Sebenarnya rumahku dan rumah Rosi masih dalam satu gang. Namun saya jarang melihat Rosi. Tidak seperti anak-anak kebanyakan, Rosi jarang keluar rumah. Bila pulang sekolahpun ia paling duduk-duduk saja di depan rumah. Ia tak pernah bergabung dengan teman-teman sebayanya untuk bermain petak umpet, congklak, slodoran atau permainan anak-anak lainnya. Ia seperti tertutup.

“Kok diam saja sih? Minggir dong! Aku kan lagi nyapu,” aku tersentak kaget. Oh iya. Cepat-cepat aku keluar kemudian duduk di samping musholla dekat tempat wudhu. Tampak pemandangan sawah di belakang musholla. Dan dari sana tampak pula sebuah rumah di ujung gang yang menghadap sawah dengan 2 pohon jambu airnya yang rimbun. Itulah rumah Rosi.  
Terus terang, aku terpesona. Baru kali ini aku melihat ada seorang gadis yang mau sholat subuh berjamaah di musholla. Biasanya sih hanya beberapa orang saja. Pak Ustadz sebagai imam, aku, Pak Pandi, Pak Mukrim, Pak Toha, Pak Haji Yakub, Pak Herman, Pak Ibad, Mang Ila pamanku. Sedang dari jamaah perempuan paling Ibu Hj Sayidah istri Pak H.Yakub, Ibu Imas istri Pak Toha, Ibu Yuni istri Pak Ustadz Rofik, Ibu Ipah istri Pak Pandi, Nenek Romlah, dan Yu Sulastri. 

Saat selesai wudhu kulihat Rosi pun selesai pula menyapu. Tepat pukul 04:35 aku lantunkan adzan, dan para jamaahpun satu persatu berdatangan. 

Selesai adzan kulirik sebentar ke arah Rosi. Ia sedang membereskan mukenah. Dengan bola matanya yang besar iapun menatap ke arahku sebentar, kemudian membuang pandanganya ke arah lain. Ia kemudian berdiri, mengenakan mukenahnya kemudian melaksanakan sholat qobliyah subuh. Ku perhatikan ia sebentar. Hmmm.... ia tampak ayu, anggun dan manis.

Saat aku selesai sholat qobliyah, tak lama pak ustadz datang. Dan kamipun melaksanakan sholat subuh berjamaah.

Selesai sholat, ku hampiri Rosi. Aku mencoba bertanya sesuatu padanya. Aku tahu Rosi orangnya amat tertutup dan susah didekati.

 “Ros, sekarang kamu sekolahnya kelas berapa, sih?” aku mencoba memancing pembicaraan.


“Kelas 2 MTs. Kalo kamu?” Rosi balik bertanya padaku.
 
“Kelas 2 SMA. Sekarang sekolah libur kenaikan kelas, kan?”

“Ya, libur 2 minggu. Masuk lagi tanggal 2 Agustus 1990.”

“Punya acara liburan kemana?” tanyaku kembali.

“Gak punya acara. Kalo kamu sendiri?” diapun balik nanya kembali. Walau Rosi menjawab semua pertanyaanku, tapi sikapnya seperti acuh. Tak ada ekspresi.

“Aku juga gak punya acara. Paling jalan-jalan pagi saja. Ke jalan baru itu, sambil menikmati pemandangan persawahan. Jalannya sepi, cocok buat olah raga pagi.”

Rosi tak bereaksi. Ia membereskan mukenah dan sajadahnya, kemudian pulang. Dan saat aku duduk sendiri di teras musholla, Pak Ustadz dan Ibu Yuni, istrinya menghampiriku.

“Kok melamun saja Lim? Mendingan lari pagi sana, biar sehat,” kata Pak Ustadz.

“Hehehe.... iya Pak Ustadz. Pak ustadz, saya mau nanya, boleh nggak?” 

“Tanya apa?”

“Tafsir mimpi....” tanyaku.

“Emang saya tukang falak? Hahahaha....” Pak Ustadz tertawa. Ibu Yuni pun ikut tertawa.

“Gini lho Pak Ustadz. Semalam saya mimpi melihat matahari dan rembulan muncul bersamaan. Apa artinya ya?” tanyaku.

“Hmm..... nampaknya ada 2 orang gadis yang naksir sama kamu, Lim,” Pak Ustadz menjawab dengan agak serius.

“2 orang gadis? Masa’ sih? Siapa ya....? Padahal aku gak ganteng-ganteng amat. Dan akupun bukan anak orang kaya. Tak ada kebanggaan yang pantas aku jadikan andalan,” jawabku penasaran.

“Materi mungkin kamu gak punya. Tapi ada sesuatu yang kamu miliki, dan tidak ada pada pemuda lain disini,” kata Pak Ustadz. 

“Apa itu?” tanyaku penasaran.

“Kamu rajin ibadah. Dan kamupun rajin puasa sunah hari Senin dan Kamis,” kata Pak Ustadz lagi. Aku kaget juga. Dari mana Pak Ustadz tahu kalau aku sering puasa Senin-Kamis? Padahal aku gak pernah cerita.

“Kata siapa aku sering puasa Senin-Kamis?” kataku.

“Hahahaha.... orang lain mungkin gak tahu, tapi Pak Ustadz tahu, walau kamu gak pernah cerita,” Ibu Yuni ikut nimbrung. 

“Bisa tahu darimana?” tanyaku penasaran. Tapi Pak Ustadz tidak menjawab pertanyaanku. Ia hanya senyum-senyum saja. 

“Orang yang suka puasa itu wajahnya memancarkan cahaya,” akhirnya Ibu Yuni yang menjawab.

“Lalu siapa 2 gadis yang naksir sama aku itu?” tanyaku penasaran lagi.

“Hahahahaha.... itu gak perlu saya jawab. Toh jawabannya kamu tahu sendiri,” kata Pak Ustadz. “Udah deh, kami pulang dulu. Di rumah masih banyak pekerjaan.”

“Iya deh Pak Ustadz, Ibu Yuni, saya juga mau pulang. Mau jogging... mumpung liburan sekolah.”

Biasanya sepulang dari musholla aku suka berjalan cepat. Tapi karena hari ini adalah liburan sekolah, maka aku jalan pelan-pelan saja, sambil menikmati pagi. Langit tampak merah, dengan mega-meganya yang tampak indah bagai riak gelombang di lautan. 

Tiba-tiba saja aku dikejutkan oleh suara bel sepeda.

“Kring... kring... kring.... permisi, mau lewat.” Aku kaget. Cepat-cepat aku minggir ke samping kiri. Saat aku menoleh ke belakang, tampaklah seorang gadis berambut panjang dengan poni di depannya sedang mengayuh sepeda. Ternyata Rosi. “Jangan melamun di jalan, nanti ketabrak lho..... hihihihi...”

Sebenarnya sudah beruntung aku bisa bercakap-cakap dengannya tadi sebelum sholat subuh. Biasanya susah banget ngobrol ama dia.

“Mau ikut nggak? Jalan-jalan ke jalan baru....” ajaknya.

“Ikut dong....” waahh.... kesempatan nih, bisa pendekatan ama Rosi.

“Tapi aku pulang dulu, ya? Naroh sarung dan kopyah.....”

“Oke.. saya tunggu disini.”
Cepat-cepat aku berlari pulang. Uhuy....... kesempatan nih. Pucuk ditimpa ulampun tiba. 10 menit kemudian aku sudah sampe jalan lagi.

“Silahkan bonceng di belakang....” 

Kemudian aku bonceng di belakang sepedanya. Dan aroma wangi khas dari rambutnya tercium lagi oleh hidungku. Kurasakan, aroma itu bukan dari parfum yang ada di toko-toko, dan bukan pula parfum di tubuh atau bajunya, tapi betul-betul dari rambutnya.

“Kok diam saja sih? Ngomong dong.....” Rosi memecah kesunyian pagi yang cerah ini. Langit tampak semakin memerah. Daun-daun dan rumput-rumput yang basah tampak bekilauan.

“Heh? Ngomong apaan?” jawabku.

“Ceileeehh.... emang saya patung, apa?”

Aku tak tahu harus ngomong apa. Rambut Rosi yang panjang kadang menampar halus wajahku. Namun aku membiarkannya. 


Matahari nampak muncul dari balik pepohonan, menambah kemilauan daun-daun yang masih basah oleh embun. Dan kicauan burung-burung menyambut kedatangan sang surya.

Tiba-tiba kudengar alunan sebuah lagu dari mulut Rosi. Aku hafal betul lagu itu. Sebuah lagu dari Tika Bisono.
 

“Ketika Senyummu Hadir”

Detik-detik telah berlalu, aku sabar menantinya
Sampai nanti kan saatnya
Hadirnya apa yang kudamba, dalam cinta

Kutunggu isyarat matamu, adakah perhatianmu
Sementara hati ini telah bicara, menanti saat...

Ketika senyummu hadir, ketika hati bicara
Dan saling bertegur sapa
Terlintas bahagia....

Ketika senyummu hadir, ketika mata bicara
Dan saling memandang mesra
Di dalam cintamu, cintaku...
Kasih mesra, kasih mesra...



“Kamu suka lagu itu?” tanya Rosi.

     “Ya.... Lagunya Tika Bisono kan?”
“He-eh... Kita nyanyi bareng-bareng yuk...” ajak Rosi.
“Boleh...” Dan kamipun menyanyikan lagu itu bareng-bareng. Rosi tampak gembira sekali.
“Kau tahu, baru kali ini aku merasa senang. Seperti burung yang baru lepas dari kandang,” kata Rosi.
“Oh ya? Kamu terlalu lama diam di rumah. Kamu jarang sekali bergaul ama teman-teman yang lain,” jawabku.
“Males.... enakan di rumah,” katanya. “Alim, gantian dong, kamu yang ngegoes. Aku capek...” pinta Rosi.
“Ya iya lah.... masa perempuan yang ngegoes. Biar aku saja yang nyetir, kamu yang bonceng.”
“He-eh....”
Kemudian gantian aku yang nyetir. Rasanya bangga deh bisa membonceng gadis secantik Rosi. Dan tiba-tiba saja tangan Rosi yang halus berpegangan pada pinggangku. Seerr.... hatiku berdesir. Terus terang, baru kali ini ada wanita yang menyentuh tubuhku.
Ketika matahari agak meninggi, kami pulang. Mungkin sekitar jam 6.30. Kami berpisah di ujung gang.
Terus terang pengalaman pagi ini sungguh berkesan bagiku. Rosi, gadis yang amat sulit didekati, yang kata teman-teman sedikit angkuh, ternyata bisa dekat denganku. Rasa-rasanya aku bisa jatuh cinta nih. Cinta pertama. Hihihi.....



Bersambung......